Politik di Rawabelong

Di foto yang saya sertakan ini, yang ada di tengah, ia nenek saya, Ibu dari Ibu saya, kami cucu-cucunya karib menyapanya Jidah. Perempuan yang berdiri di sebelah Jidah, ia sepupu saya. Dan lelaki yang berdiri di sebelah kanan Jidah saya, bukan, dia bukan kakek saya, dan kamu tentu tahu dong siapa dia. Semoga ia tak menurunkan bakat Ayahnya yang gemar bikin album saat menjabat sekaligus mengucap kata apa? Yak betul, PRIHATIN. Dan saya yakin seyakin-yakinnya, si bocah yang bapaknya senang berujar “prihatin” inilah yang minta berfoto dengan Jidah. Dan pasti sedikit memaksa tentunya. Read the full post »

Eksotisme

Pertengahan tahun 2007, seorang diri saya melakukan perjalanan dari Mataram menuju Dompu di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Tujuan saya, mendaki Gunung Tambora. Senja yang indah di Pulau Lombok melepas keberangkatan saya.

Informasi yang saya dapat, sekira subuh waktu setempat saya akan tiba di terminal Dompu. Di dalam bis, saya memilih kursi paling belakang, duduk seorang diri. Saat menyeberangi selat yang memisahkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, seluruh uang di dompet raib. Uang yang tersisa di saku celana Rp143 ribu. Read the full post »

Surat dari Asmat 29

Udara sejuk berhembus di Mumugu Batas Batu. Kabut tipis masih menyelimuti hutan, jalan, sungai, rumah, dan segala yang ada di Mumugu Batas Batu. Gedung sekolah yang diselimuti kabut, terlihat muram dari rumah guru. Bendera merah putih yang terpasang di tiang bendera di halaman sekolah, layu karena basah. Embun yang bercampur kabut menetes dari dedauan pohon-pohon di hutan belakang rumah guru. Akbar, Kuri Ansel dan istrinya masih tidur. Dari belakang rumah guru, ditemani segelas teh hangat yang saya campur dua sendok makan madu, saya menikmati suasana pagi di Mumugu Batas Batu. Read the full post »

Surat dari Asmat 28

Hari pertama belajar bersama anak-anak Asmat setelah kedatangan Akbar dan kembalinya Kuri Ansel ke Mumugu Batas Batu, 55 anak hadir di sekolah. Mendengar kabar kedatangan guru baru dan kembalinya Kuri Ansel, antusiasme anak-anak melimpah ruah. Kamipun sudah tidak meminjam ruang di balai desa lagi untuk sekolah, kami kembali belajar di bangunan sekolah yang letaknya persis di sebelah rumah guru.

“Ini baru sekolah pak guru, baik ini. Di balai desa kemarin bukan sekolah itu, terlalu sempit.” Begitu Natalis Bewer mengomentari kembalinya kami belajar di gedung sekolah.

“Lebih bagus lagi kita belajar di dermaga pak guru, atau di lapangan pasir dekat sungai, itu boleh itu.” Michael Nemese menambahkan. Read the full post »

Surat dari Asmat 27

Minggu, 26 Oktober 2014. Pagi yang cerah, gereja ramai oleh masyarakat yang hendak beribadah. Kuri Ansel memukul lonceng di depan gereja, memanggil masyarakat yang masih bersiap-siap di rumah agar lekas ke gereja karena misa akan segera dimulai. Akbar sibuk dengan kameranya, sedang saya, khusyuk memperhatikan keadaan untuk diabadikan dalam sebuah tulisan. Gereja Mumugu terletak di pinggir jalan utama kampung, di belakangnya hutan membentang hingga ke sungai Pomats. Read the full post »

Surat dari Asmat 26

Jum’at, 24 Oktober 2014. Saya sedang belajar bersama 21 anak-anak Asmat di balai desa saat seseorang mengetuk pintu ruangan yang kami gunakan sebagai ruang kelas. “Assalammualaikum, Fawaz, saya baru tiba ini.” Begitu ia berujar sebelum membuka pintu yang sengaja kami tutup. Betapa senang perasaan saya saat tahu yang membuka pintu kemudian adalah Akbar.

Kami bersalaman, berpelukan, sementara anak-anak yang berada di dalam kelas memperhatikan kami dengan rasa ingin tahunya. Saya langsung memperkenalkan Akbar kepada murid-murid secara singkat untuk kemudian mempersilakan Akbar memperkenalkan dirinya secara langsung kepada anak-anak. Usai Akbar memperkenalkan diri, saya menyudahi kegiatan belajar yang baru berlangsung sekitar satu setengah jam, meminta anak-anak usia remaja untuk membantu saya dan Akbar menurunkan barang-barang bawaan Akbar yang masih tertinggal di perahu. Kami semua langsung bergegas ke dermaga yang letaknya 100 meter dari balai desa. Read the full post »

Ngegerendeng Politik

Seandainya konstelasi politik dan tetek bengek di belakangnya bisa disederhanakan, maksudnya, bisa ditafsirkan dengan logika sederhana teori kuasa, saya kira politik saling sindir dan saling menyalahkan masa lalu yang keduanya lemah dan menjijikkan itu bisa disingkirkan sesegera mungkin. Dan yang masih menggunakan argumen itu untuk saling menjatuhkan, ya jadinya memalukan.

Begini, dari satu kasus saja, perihal reklamasi di Bali dan Jakarta. Para pendukung presiden sekarang menyalahkan SBY yang ada dibalik izin reklamasi Teluk Benoa. Pun begitu dengan para pendukung gubernur petahana Jakarta, menyalahkan Foke yang teken kontrak tentang izin reklamasi di utara Jakarta. Read the full post »

Nostalgia

Akan lumrah halnya jika memori masa kecil yang telah lama mengendap kembali menguap saat kita menyaksikan tingkah laku keseharian anak kecil, tingkah laku yang mirip dengan lelaku kita di masa kecil dulu. Bersepeda ke sekolah. Bermain sepak bola. Bermain permainan tradisional. Mengusili rekan sepermainan. Dan banyak lainnya.

Masa kanak-kanak, bagi kebanyakan manusia normal, saya kira, adalah masa-masa yang paling membahagiakan. Maka, mengenangnya, kembali mengingatnya baik itu secara disengaja ataupun tak disengaja adalah juga suatu hal yang menyenangkan. Read the full post »

Tantangan Terberat

Siang hampir usai, hari akan segera memasuki senja. Hujan yang sedari pagi turun sudah mulai reda. Di pangkalan ojek kampung sebelah, Ableh, Panjul, Otong dan Sadeli asik dengan obrolan mereka ditemani kopi hitam yang sudah dingin. Kemudian obrolan mereka masuk pada bahasan yang sangat serius.

“Gw pikir, sebagai tukang ojek pangkalan, tantangan terbesar kita sekarang ini adalah bagaimana menyejajarkan diri dengan ojek-ojek online yang menjamur kini.” Otong memulai percakapan usai menyeruput kopinya.

“Iye, bener tuh. Yang utama, bagaimana penghasilan kita nggak kalah jauh dibanding mereka-mereka itu.” Sadeli menimpali.

“Ya sebelom ke penghasilan, sekarang, yang terpenting, buat nyamain kredibilitas kita dengan mereka, kita kudu mulai dari penampilan.” Kali ini Panjul memberi masukan.

“Oh nggak gitu, nggak gitu, kalian semua salah.” Begitu ujar Ableh membantah mereka semua.

Usai jeda menyeruput kopi hitamnya, Ableh menambahkan, “Tantangan terbesar kita, dari dulu hingga kini, yang terus gw coba namun gagal terus, adalah, bagaimana bisa berhasil berak tanpa kencing.”

“Taaaiiiiiiiii ledig luuuuu….!!!!” Tiga yang lainnya serempak memaki. Ableh

Zootopia

Beberapa waktu yang lalu, bersama istri saya menonton film animasi berjudul Zootopia. Sebetulnya, saya setengah hati menerima ajakan istri ini, karena saya orang yang sama sekali tak tertarik menyaksikan film-film kartun animasi buatan holywood. Kecuali Quentin Tarantino atau Clint Eastwood membuat film animasi, mungkin saya akan bersemangat menyaksikannya.

Demi menyenangkan istri, saya tetap berangkat, mengantri karcis dan duduk bersama ratusan penonton lainnya di dalam gedung pertunjukan yang cukup besar. Kami masuk dalam gedung pertunjukan persis saat film baru dimulai. Film dibuka dengan pertunjukan teater anak-anak yang diperankan oleh kelinci, cheetah, domba dan beberapa binatang lainnya. Read the full post »